Hari ini tepat sebulan sebulan sebelum 39 tahun usiaku...
39? Hmmm...dan konon life begins at 40...Yang jelas 2016 ini sepertinya rasa galau, depresi dan teman-temannya betah banget tinggal...
Jadi ceritanya di bulan April 2016 lalu, tiba-tiba ada perasaan makin kuat kalau anakku laki-laki satu-satunya, George Abhimanyu Aruan yang sejak bersekolah di Canadian School of Milan April 2016 akrab dipanggil Abhi George, berkelakuan mirip sekali dengan anak-anak special needs yang memiliki Autism Spectrum Disorder (ASD). Cek di youtube dan website sana sini dan membandingkan dengan perilaku Abhi sehari-hari yang sering mengulang kata-kata itu-itu saja dan juga perilaku tertentu, kemudian membandingkannya dengan ASD symptoms, rasanya hari-hariku semakin panik dan tidak bisa tidur. Tiada hari tanpa browsing, research sana sini dan mencari ahli yang tepat untuk observasi. Karena begini, pada saat kembali ke Jakarta pada akhir Januari/awal Februari 2016 lalu, sempat bertemu Psikolog dan hasil observasi sekali adalah Abhi memiliki mild ADD (mungkin ADHD kali ya karena Abhi cenderung hiperaktif).
Ada untungnya suka curhat, dapat informasi dari ibu temannya Abhi bahwa Abhi bisa dibawa ke UONPIA untuk dilakukan pengecekan. Hmmm dari akhir 2015 baru bisa dapat info seperti ini di bulan April 2016? Tapi tidak apa-apa, segala nasehat dilakukan, dari mencoba mendaftar lewat jalur public heath facility dengan mendatangi dokter anak setempat untuk mendapat surat pengantar agar dapat mendaftar ke UONPIA Via Pace 9 dan baru mendapat jadwal waiting list 6 bulan di UONPIA Via Pace 9, lalu mencari ke ospedale San Paolo yang menurut websitenya menyediakan fasilitas untuk orang asing. Karena tak kunjung mendapat kepastian, akhirnya diputuskan untuk mendatangani Neuoropsiciatra Infantile di rumah sakit publik tapi melalui jalur privat berbayar supaya tidak perlu antre lama. Akhirnya dapat jadwal untuk 9 Mei 2016
Ceritanya loncat dulu ya, karena mau bikin catatan buat hari ini.
Jadi hasil observasi tanggal 9 Mei 2016 adalah, Abhi tidak memiliki ADD maupun ADHD, tetapi lebih condong ke ASD dan itu dibutuhkan observasi lebih lanjut. Dan pada hari ini, dokter pediatrik telah berkomunikasi melalui telepon dengan dokter neuropsikiatria bahwa kalau pun Abhi memiliki ASD, kemungkinan bsar adalah High-Functioning Autism dan tetap saja harus diterapi.
Jadi ingat tadi pagi dan tadi siang pas antar jemput Abhi. Udah sejak 9 Mei kemarin, Abhi resmi hanya half day sekolah saja sampai 11.30, masih aja dapat laporan Abhi suka mukul, suka teriak-teriak pas circle time. Ya memang masalah behavior itu lebih penting dari segala-galanya kalau mau hidup normal.